Rabu, 20 Desember 2017

Surat terbuka untuk kau, penulis cerita tentangku


Hai kau,
Kau tak tau tentang diriku.
Bahkan, berjumpa denganku pun kau tak pernah.
Bagaimana bisa kau membuat cerita tentangku yang kau sendiri belum pernah bicara dengan pemeran utamanya?
Kamu perlu tau satu hal,
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari perkataan orang lain.
Karena itu artinya kau hanya melihatku dari dunia maya.
Kemudian kau dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa kau paham bagaimana aku,
bagaimana tabiatku,
bagaimana sikapku.
Padahal nyatanya kau hanya meraba raba tanpa benar benar menjamahnya.
Kau tak sesungguhnya tau, kau hanya menerka tanpa tau kebenarannya.

Hai, kau ini sedang apa?
Mau menjadi analisis suatu perkara?
Atau kau hanya ingin menjadi seseorang yang tampak hebat dengan mengarang sebuah cerita?
Mengarang cerita dimana kamulah si pihak yang tersakiti.

Kau salah.
Salah besar.
Kau pikir orang yang kau buat kisahnya itu hanya sebuah bayangan?
Tidak, bukan sama sekali.
Sejak kapan aku mengambil sesuatu darimu?
Sejak kapan aku menyentuh milikmu?
Tidak, aku tidak pernah mengambil apapun milikmu.
Aku tidak pernah menyentuh orangmu.
Tolong jangan pernah membuat satu cerita atau kisah tentang seseorang yang kau saja belum pernah bertemu dengannya.
Jangan pernah menilai hanya dari orang lain, karena kau tidak tau lika liku hidupnya yang sebenarnya.

Hai kau.
Kalau ingin membuat cerita, kenali dulu pemeran utamanya.
Kenali dulu, berbicaralah, mungkin dengan kita berdiskusi kau akan paham bagaimanacara dia mengambil satu keputusan.
Jangan seenak kepala saja menilai seseorang, atau bahkan menjatuhkannya.
Jika penilaianmu itu baik, semoga itu doa untukku dan siapapun yang kau tuju.

Tapi jika penilaianmu itu buruk, semoga Allah mengampuni atas segala prasangka itu.

Jumat, 15 Desember 2017

Hei Kau..

Hei.
Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku tak memanggilmu dengan sebutan yang lebih panjang, dengan sebutan yang lebih personal.
Bukankah sapaan ‘hei’ terasa terlalu datar.
Terlalu jauh dari sifat periangku yang selama ini kamu kenal.
Kamu pun pasti mendeteksi perubahan sikapku akhir-akhir ini.
Aku menjadi lebih diam, namun pada saat bersamaan lebih cepat gusar.
Seperti pacar perempuan yang sedang marah — kecuali tentu saja aku bukan pacar siapa-siapa.
Karena hingga saat ini, sayangnya, hubungan kita belum bernama.
Pertemuan kita memang sangat biasa, berawal dari status teman.
Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama kita?
Satu tahun silam kita hanyalah teman sepermainan di tempat kerja.
Tidak, kala itu tidak hanya melulu aku dan kamu, banyak juga kawan-kawan lainnya.
Namun, dari sekian banyak manusia di sana, kamu dan aku memiliki persamaan yang membuat kita kian lekat.
Kita lebih senang berbincang dan berbagi cerita daripada mengikuti hingar-bingar suasana.
Aku masih belum menerka jika ternyata kamu, pria yang kuajak berbincang bincang itu, akan mengisi lipatan hatiku di hariku yang selanjutnya.
Tanpa disadari, kedekatan kita pun berlanjut.
Jika dulunya kita selalu pergi bersama kawan lainnya, kini kau tak segan untuk mengajak pergi berdua saja.
Diam-diam aku menikmati tiap menitnya.
Ah, tahukah kamu bahwa hatiku telah berganti pemilik saat itu?
Hatiku bukan lagi menjadi milikku seutuhnya, namamu juga melekat di beberapa bagian dari dirinya.
Aku tahu kamu menikmati ini.
Namun seringkali, aku merasa aku di sini berusaha sendiri
Kedekatan kita memang sepertinya sudah naik kasta.
Aku tahu, sebagaimana diriku, kamu pun menikmatinya.
Namun ini tak pernah mendorongmu membuat hubungan kita resmi.
Dalam banyak hal, aku merasa bahwa akulah yang berusaha sendiri.
Apakah kau pernah menghitung berapa kali aku mencoba membuka percakapan hingga menjurus mengenai status kita berdua?
Saat wanita lain memiliki kekasih hati yang bisa dibanggakan, aku hanya akan gigit jari.
Bagaimana bisa memanggil ‘sayang’ atau mencemburui orang yang bahkan tak aku miliki?
Aku berulang kali menyegarkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja.
Jalani dulu, toh pasti semua ada masanya.
Namun, hampir dua purnama berlalu dan hubungan kita masih tetap sama.
Kita tak berjeda, tapi sekaligus tak bernama.
Bahkan, tak kunjung ada jawaban yang kau lontarkan saat pertanyaan ‘siapa gadis yang bersamamu?’ menghampiri.
Salahkah jika sekarang aku menuntut kejelasan?
Sebut saja aku gadis kolot yang berpegang pada prinsip usang.
Namun, aku menginginkan kejelasan untuk kita berdua.
Apa yang begitu kau takutkan?
Apakah kau belum siap untuk sebuah komitmen?
Asal kau tahu, aku juga tidak siap untuk hubungan cinta yang tak bernama.
Aku tidak menuntutmu mengutarakan cinta seperti yang biasa kita lihat di acara konyol di layar kaca.
Aku hanya ingin kita membicarakannya baik-baik dan membuat hubungan ini segera menemukan julukannya.
Jika berbicara berdua membuat lidahmu kelu, kau boleh menuangkan pemikiranmu di surat balasan yang akan selalu kutunggu.
Jika nyatanya hubungan kita memang tidak naik tahta, toh tetap ada label ‘sahabat’ yang tetap melekat.
Ya, aku tidak menuntut untuk kau jadikan pacar, aku hanya menuntut kejelasan hubungan. Sesederhana itu.
Semoga lekas ada nama untuk kita.

Kamis, 14 Desember 2017

Aulia Salsabillah

Kamu pernah putus asa?
Pernah merasa gagal?
Pernah dikhianati soal cinta?
Pernah dilukai orang terdekat?
Pernah disalahkan padahal bukan kesalahanmu?

Tenang, kamu gak sendiri. Namaku Aulia Salsabillah. Ini kisahku tentang perjuangan dan segunung pengorbanan. Ini sebuah cerita untukmu. Kamu boleh membacanya dan boleh juga mengabaikannya. Aku tak berharap banyak tentang itu. Tapi aku hanya ingin kamu tau dan sedikit perduli bahwa aku butuh teman.

To be continue...

Kangen Kamu

Kadang aku kangen kamu.

Kangen meluangkan waktu bersama, berdua. Ngobrol sekonyol-konyolnya, atau bermain tebak-tebakan dari yang jelas sampai yang tidak jelas juntrungannya.

Itu yang membuatku tidak bisa lupa. Bagaimana kamu bisa membuatku nyaman tanpa membutuhkan perjuangan. Cukup ada di sana, menjadi diri kamu tanpa harus berpura-pura, dan aku bisa mensyukuri setiap detiknya.

Itu yang membuatku jatuh cinta.
Aku, di depanmu, tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu harus berusaha keras terlihat pintar atau bisa bercanda. Cukup di sana, menemanimu berbicara.
Seperti itu saja aku sudah bahagia.

Kadang aku kangen kamu.

Kangen ngobrolin komik atau film berdua. Berdebat entah apa tapi bercanda lagi setelahnya. Kembali nyaman berdua.

Lalu aku akan memperhatikan detail kamu. Pakaianmu warna apa, pakai sepatu apa, parfummu merk apa. Dan kamu akan tersipu karena aku memperhatikanmu sampai sekecil itu.

Masih ingat kalau ada seseorang yang bisa dengan melihatnya saja otomatis bisa membuatku bahagia begitu saja? Kamu pasti tahu orangnya. Kita berdua tahu orangnya. Kita hanya tidak pernah benar-benar membicarakannya.

Kadang aku kangen kamu.
Nyamannya, rasanya, hangatnya di dada pas kamu tertawa.
KANGEN JATUH CINTANYA.

Teman Kita Pernah Bercerita

Teman kita pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya, ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan.

Dua orang itu juga selalu menjadi perhatian teman-temannya. Mereka akan menggoda, menjodoh-jodohkan keduanya. Dua orang itu akan tersipu begitu saja.

Teman kita pernah bercerita.

Dua orang itu pernah menjadi dua orang yang saling jatuh cinta, tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama. Terlalu lama.

Sampai salah satu bosan menunggu, dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama.

Dua orang yang saling jatuh cinta, tetapi tidak pernah bersama.

Kata teman-teman, dua orang itu adalah kita.

Minggu, 10 Desember 2017

Untuk Diriku yang Sering Mencemaskan Masa Depan


Hai aku dimasa depan.
Bagaimana rupa kehidupanku di masa depan?
Apakah aku akan menjadi orang yang cukup mapan?
Apakah kehidupan nantinya menenangkan?
Bagaimana kalau kelak justru banyak kesusahan yang dihadapkan?

Semua pertanyaan perihal masa depan ini mencuri-curi kesempatan di tiap waktumu untuk terus hadir, tanpa kamu berusaha untuk mengelaknya. Memikirkan masa depan memang sah-sah saja. Namun, saat masa depan justru berubah menjadi kecemasan, sudah seharusnya dihentikan. Toh mencemaskannya tak akan berbuah apapun. Cita-cita dan harapanmu pun bisa saja berhenti di tengah jalan, atau mungkin lenyap dilahap rasa cemas.

Alih-alih memikirkan masa depan, justru membuat hidupmu di masa kini terlewati begitu saja. Ada baiknya kamu menimbang-nimbang lagi kenapa tak seharusnya masa depan itu kamu cemaskan dengan berlebihan. Jalani saja harimu dengan doa dan usaha yang seimbang.

Mencemaskan masa depan yang belum datang justru membuatmu lupa menikmati masa sekarang

Secangkir kopi dan sepiring camilan yang harusnya kamu nikmati sambil menyusun ide atau rencana kegiatan, lenyap begitu saja dengan lamunan masa depan. Pikiranmu terus sibuk dengan persoalan karir yang seperti apa ke depannya. Hatimu sendiri pun tengah direpotkan dengan dia yang tak kunjung datang melengkapi. Mau sampai kapan kamu terus begini?

Memikirkan perjalanan karir perlu, tapi bukankah lebih penting lagi kalau kamu fokus menjalani dengan sebaik-baiknya segala usaha. Dan perihal jodoh, tenangkan dan kuatkan hatimu. Alih-alih terus merenungkannya dengan segala kegalauan, buka dirimu pada pergaulan yang lebih luas dan terus pantaskan dirimu sesuai dengan harapan. Ingat saja jodohmu bukan pakaian yang bisa dibolak-balik, atau sendal yang pasangannya bisa tertukar. Jangan lupa juga menikmati setiap waktu yang bergulir.

Daripada terus memikirkan masa depan, fokuslah pada apa yang sekarang harus kamu lakukan

Saat teman-temanmu sudah bergerak melakukan banyak hal, menciptakan karya ini itu dan mengumpulkan segala macam pengalaman. Kamu yang sibuk memikirkan masa depan justru diam di tempat. Kecemasan pada masa depan membuatmu sering takut untuk mengambil langkah baru yang mengharuskan keluar dari zona aman. 

Hei, masa depanmu berproses bukan hanya melewati keenakkan, tapi juga berbagai kesukaran. Dan sebaik-baiknya masa depan adalah yang penuh dengan lika-liku kehidupan. Sudahlah berhenti memikirkan masa depan, lakukan saja apa yang harus kamu lakukan untuk kehidupan yang lebih baik.

Masa depan memang sepenuhnya milikmu. Tapi kehidupanmu, tak sepenuhnya milik egomu.

Masa depanmu yang nyata adalah kesempatan yang kamu gunakan sebaik-baiknya setiap harinya.
Ingat juga orangtua yang harusnya kamu pikirkan sekarang selama mereka masih ada, karena belum tentu di masa depan kamu masih bisa bersama mereka. Jauh sebelum kamu hadir di dunia, masa depanmu sudah berada dalam genggaman doa mereka. Setelah kamu lahir, mereka megusahakan segala daya untuk bantu membangun masa depanmu. Tapi setelah kamu menggap dirimu mumpuni untuk memikirkan masa depanmu sendiri. Kamu lupa dengan waktu mereka yang setiap harinya berkurang.

Asal kamu tahu, ayah dan ibumu tak selamanya menemanimu. Mereka pun tak pernah tahu kapan waktunya melepaskanmu menjalani kehidupan tanpa kehadiran mereka lagi. Karena itu, selagi mereka masih ada di sisimu tak usah lah terlalu sibuk memikirkan masa depanmu itu. Pikirkan bagaimana membuat mereka bahagia dan tenang di hari tuanya. Pikirkan bagaimana kamu harus menyayangi mereka tanpa membuat mereka sedih dan kecewa.

Sudah lah, memikirkan masa depan, tak akan membawamu kemana-mana. Waktumu hanya terbuang percuma. Nikmati hidupmu seperti secangkir kopi dan sepiring camilan yang pagi tadi tersedia dengan sederhana. Keduanya tak tercipta dengan begitu saja, ada sekumpulan usaha di sana. Bukan kah itu seperti masa depan yang kamu harapkan nantinya?

Percaya dengan kekuatan usaha dan doa lebih bijak untuk menunggu masa depanmu yang sudah tertata dengan sendirinya. Tertata sesuai dengan daya dan upaya yang kamu lakukan. Sang Pelukis Semesta tak akan tertidur barang sedetik. Jadi, bisa dipastikan masa depanmu tak akan tertukar oleh apapun.

Semua akan baik-baik saja pada akhirnya jika kamu tetap berusaha, percayalah.