Jumat, 15 Desember 2017

Hei Kau..

Hei.
Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku tak memanggilmu dengan sebutan yang lebih panjang, dengan sebutan yang lebih personal.
Bukankah sapaan ‘hei’ terasa terlalu datar.
Terlalu jauh dari sifat periangku yang selama ini kamu kenal.
Kamu pun pasti mendeteksi perubahan sikapku akhir-akhir ini.
Aku menjadi lebih diam, namun pada saat bersamaan lebih cepat gusar.
Seperti pacar perempuan yang sedang marah — kecuali tentu saja aku bukan pacar siapa-siapa.
Karena hingga saat ini, sayangnya, hubungan kita belum bernama.
Pertemuan kita memang sangat biasa, berawal dari status teman.
Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama kita?
Satu tahun silam kita hanyalah teman sepermainan di tempat kerja.
Tidak, kala itu tidak hanya melulu aku dan kamu, banyak juga kawan-kawan lainnya.
Namun, dari sekian banyak manusia di sana, kamu dan aku memiliki persamaan yang membuat kita kian lekat.
Kita lebih senang berbincang dan berbagi cerita daripada mengikuti hingar-bingar suasana.
Aku masih belum menerka jika ternyata kamu, pria yang kuajak berbincang bincang itu, akan mengisi lipatan hatiku di hariku yang selanjutnya.
Tanpa disadari, kedekatan kita pun berlanjut.
Jika dulunya kita selalu pergi bersama kawan lainnya, kini kau tak segan untuk mengajak pergi berdua saja.
Diam-diam aku menikmati tiap menitnya.
Ah, tahukah kamu bahwa hatiku telah berganti pemilik saat itu?
Hatiku bukan lagi menjadi milikku seutuhnya, namamu juga melekat di beberapa bagian dari dirinya.
Aku tahu kamu menikmati ini.
Namun seringkali, aku merasa aku di sini berusaha sendiri
Kedekatan kita memang sepertinya sudah naik kasta.
Aku tahu, sebagaimana diriku, kamu pun menikmatinya.
Namun ini tak pernah mendorongmu membuat hubungan kita resmi.
Dalam banyak hal, aku merasa bahwa akulah yang berusaha sendiri.
Apakah kau pernah menghitung berapa kali aku mencoba membuka percakapan hingga menjurus mengenai status kita berdua?
Saat wanita lain memiliki kekasih hati yang bisa dibanggakan, aku hanya akan gigit jari.
Bagaimana bisa memanggil ‘sayang’ atau mencemburui orang yang bahkan tak aku miliki?
Aku berulang kali menyegarkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja.
Jalani dulu, toh pasti semua ada masanya.
Namun, hampir dua purnama berlalu dan hubungan kita masih tetap sama.
Kita tak berjeda, tapi sekaligus tak bernama.
Bahkan, tak kunjung ada jawaban yang kau lontarkan saat pertanyaan ‘siapa gadis yang bersamamu?’ menghampiri.
Salahkah jika sekarang aku menuntut kejelasan?
Sebut saja aku gadis kolot yang berpegang pada prinsip usang.
Namun, aku menginginkan kejelasan untuk kita berdua.
Apa yang begitu kau takutkan?
Apakah kau belum siap untuk sebuah komitmen?
Asal kau tahu, aku juga tidak siap untuk hubungan cinta yang tak bernama.
Aku tidak menuntutmu mengutarakan cinta seperti yang biasa kita lihat di acara konyol di layar kaca.
Aku hanya ingin kita membicarakannya baik-baik dan membuat hubungan ini segera menemukan julukannya.
Jika berbicara berdua membuat lidahmu kelu, kau boleh menuangkan pemikiranmu di surat balasan yang akan selalu kutunggu.
Jika nyatanya hubungan kita memang tidak naik tahta, toh tetap ada label ‘sahabat’ yang tetap melekat.
Ya, aku tidak menuntut untuk kau jadikan pacar, aku hanya menuntut kejelasan hubungan. Sesederhana itu.
Semoga lekas ada nama untuk kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar