Rabu, 20 Desember 2017

Surat terbuka untuk kau, penulis cerita tentangku


Hai kau,
Kau tak tau tentang diriku.
Bahkan, berjumpa denganku pun kau tak pernah.
Bagaimana bisa kau membuat cerita tentangku yang kau sendiri belum pernah bicara dengan pemeran utamanya?
Kamu perlu tau satu hal,
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari perkataan orang lain.
Karena itu artinya kau hanya melihatku dari dunia maya.
Kemudian kau dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa kau paham bagaimana aku,
bagaimana tabiatku,
bagaimana sikapku.
Padahal nyatanya kau hanya meraba raba tanpa benar benar menjamahnya.
Kau tak sesungguhnya tau, kau hanya menerka tanpa tau kebenarannya.

Hai, kau ini sedang apa?
Mau menjadi analisis suatu perkara?
Atau kau hanya ingin menjadi seseorang yang tampak hebat dengan mengarang sebuah cerita?
Mengarang cerita dimana kamulah si pihak yang tersakiti.

Kau salah.
Salah besar.
Kau pikir orang yang kau buat kisahnya itu hanya sebuah bayangan?
Tidak, bukan sama sekali.
Sejak kapan aku mengambil sesuatu darimu?
Sejak kapan aku menyentuh milikmu?
Tidak, aku tidak pernah mengambil apapun milikmu.
Aku tidak pernah menyentuh orangmu.
Tolong jangan pernah membuat satu cerita atau kisah tentang seseorang yang kau saja belum pernah bertemu dengannya.
Jangan pernah menilai hanya dari orang lain, karena kau tidak tau lika liku hidupnya yang sebenarnya.

Hai kau.
Kalau ingin membuat cerita, kenali dulu pemeran utamanya.
Kenali dulu, berbicaralah, mungkin dengan kita berdiskusi kau akan paham bagaimanacara dia mengambil satu keputusan.
Jangan seenak kepala saja menilai seseorang, atau bahkan menjatuhkannya.
Jika penilaianmu itu baik, semoga itu doa untukku dan siapapun yang kau tuju.

Tapi jika penilaianmu itu buruk, semoga Allah mengampuni atas segala prasangka itu.

Jumat, 15 Desember 2017

Hei Kau..

Hei.
Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku tak memanggilmu dengan sebutan yang lebih panjang, dengan sebutan yang lebih personal.
Bukankah sapaan ‘hei’ terasa terlalu datar.
Terlalu jauh dari sifat periangku yang selama ini kamu kenal.
Kamu pun pasti mendeteksi perubahan sikapku akhir-akhir ini.
Aku menjadi lebih diam, namun pada saat bersamaan lebih cepat gusar.
Seperti pacar perempuan yang sedang marah — kecuali tentu saja aku bukan pacar siapa-siapa.
Karena hingga saat ini, sayangnya, hubungan kita belum bernama.
Pertemuan kita memang sangat biasa, berawal dari status teman.
Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama kita?
Satu tahun silam kita hanyalah teman sepermainan di tempat kerja.
Tidak, kala itu tidak hanya melulu aku dan kamu, banyak juga kawan-kawan lainnya.
Namun, dari sekian banyak manusia di sana, kamu dan aku memiliki persamaan yang membuat kita kian lekat.
Kita lebih senang berbincang dan berbagi cerita daripada mengikuti hingar-bingar suasana.
Aku masih belum menerka jika ternyata kamu, pria yang kuajak berbincang bincang itu, akan mengisi lipatan hatiku di hariku yang selanjutnya.
Tanpa disadari, kedekatan kita pun berlanjut.
Jika dulunya kita selalu pergi bersama kawan lainnya, kini kau tak segan untuk mengajak pergi berdua saja.
Diam-diam aku menikmati tiap menitnya.
Ah, tahukah kamu bahwa hatiku telah berganti pemilik saat itu?
Hatiku bukan lagi menjadi milikku seutuhnya, namamu juga melekat di beberapa bagian dari dirinya.
Aku tahu kamu menikmati ini.
Namun seringkali, aku merasa aku di sini berusaha sendiri
Kedekatan kita memang sepertinya sudah naik kasta.
Aku tahu, sebagaimana diriku, kamu pun menikmatinya.
Namun ini tak pernah mendorongmu membuat hubungan kita resmi.
Dalam banyak hal, aku merasa bahwa akulah yang berusaha sendiri.
Apakah kau pernah menghitung berapa kali aku mencoba membuka percakapan hingga menjurus mengenai status kita berdua?
Saat wanita lain memiliki kekasih hati yang bisa dibanggakan, aku hanya akan gigit jari.
Bagaimana bisa memanggil ‘sayang’ atau mencemburui orang yang bahkan tak aku miliki?
Aku berulang kali menyegarkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja.
Jalani dulu, toh pasti semua ada masanya.
Namun, hampir dua purnama berlalu dan hubungan kita masih tetap sama.
Kita tak berjeda, tapi sekaligus tak bernama.
Bahkan, tak kunjung ada jawaban yang kau lontarkan saat pertanyaan ‘siapa gadis yang bersamamu?’ menghampiri.
Salahkah jika sekarang aku menuntut kejelasan?
Sebut saja aku gadis kolot yang berpegang pada prinsip usang.
Namun, aku menginginkan kejelasan untuk kita berdua.
Apa yang begitu kau takutkan?
Apakah kau belum siap untuk sebuah komitmen?
Asal kau tahu, aku juga tidak siap untuk hubungan cinta yang tak bernama.
Aku tidak menuntutmu mengutarakan cinta seperti yang biasa kita lihat di acara konyol di layar kaca.
Aku hanya ingin kita membicarakannya baik-baik dan membuat hubungan ini segera menemukan julukannya.
Jika berbicara berdua membuat lidahmu kelu, kau boleh menuangkan pemikiranmu di surat balasan yang akan selalu kutunggu.
Jika nyatanya hubungan kita memang tidak naik tahta, toh tetap ada label ‘sahabat’ yang tetap melekat.
Ya, aku tidak menuntut untuk kau jadikan pacar, aku hanya menuntut kejelasan hubungan. Sesederhana itu.
Semoga lekas ada nama untuk kita.

Kamis, 14 Desember 2017

Aulia Salsabillah

Kamu pernah putus asa?
Pernah merasa gagal?
Pernah dikhianati soal cinta?
Pernah dilukai orang terdekat?
Pernah disalahkan padahal bukan kesalahanmu?

Tenang, kamu gak sendiri. Namaku Aulia Salsabillah. Ini kisahku tentang perjuangan dan segunung pengorbanan. Ini sebuah cerita untukmu. Kamu boleh membacanya dan boleh juga mengabaikannya. Aku tak berharap banyak tentang itu. Tapi aku hanya ingin kamu tau dan sedikit perduli bahwa aku butuh teman.

To be continue...

Kangen Kamu

Kadang aku kangen kamu.

Kangen meluangkan waktu bersama, berdua. Ngobrol sekonyol-konyolnya, atau bermain tebak-tebakan dari yang jelas sampai yang tidak jelas juntrungannya.

Itu yang membuatku tidak bisa lupa. Bagaimana kamu bisa membuatku nyaman tanpa membutuhkan perjuangan. Cukup ada di sana, menjadi diri kamu tanpa harus berpura-pura, dan aku bisa mensyukuri setiap detiknya.

Itu yang membuatku jatuh cinta.
Aku, di depanmu, tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu harus berusaha keras terlihat pintar atau bisa bercanda. Cukup di sana, menemanimu berbicara.
Seperti itu saja aku sudah bahagia.

Kadang aku kangen kamu.

Kangen ngobrolin komik atau film berdua. Berdebat entah apa tapi bercanda lagi setelahnya. Kembali nyaman berdua.

Lalu aku akan memperhatikan detail kamu. Pakaianmu warna apa, pakai sepatu apa, parfummu merk apa. Dan kamu akan tersipu karena aku memperhatikanmu sampai sekecil itu.

Masih ingat kalau ada seseorang yang bisa dengan melihatnya saja otomatis bisa membuatku bahagia begitu saja? Kamu pasti tahu orangnya. Kita berdua tahu orangnya. Kita hanya tidak pernah benar-benar membicarakannya.

Kadang aku kangen kamu.
Nyamannya, rasanya, hangatnya di dada pas kamu tertawa.
KANGEN JATUH CINTANYA.

Teman Kita Pernah Bercerita

Teman kita pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya, ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan.

Dua orang itu juga selalu menjadi perhatian teman-temannya. Mereka akan menggoda, menjodoh-jodohkan keduanya. Dua orang itu akan tersipu begitu saja.

Teman kita pernah bercerita.

Dua orang itu pernah menjadi dua orang yang saling jatuh cinta, tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama. Terlalu lama.

Sampai salah satu bosan menunggu, dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama.

Dua orang yang saling jatuh cinta, tetapi tidak pernah bersama.

Kata teman-teman, dua orang itu adalah kita.

Minggu, 10 Desember 2017

Untuk Diriku yang Sering Mencemaskan Masa Depan


Hai aku dimasa depan.
Bagaimana rupa kehidupanku di masa depan?
Apakah aku akan menjadi orang yang cukup mapan?
Apakah kehidupan nantinya menenangkan?
Bagaimana kalau kelak justru banyak kesusahan yang dihadapkan?

Semua pertanyaan perihal masa depan ini mencuri-curi kesempatan di tiap waktumu untuk terus hadir, tanpa kamu berusaha untuk mengelaknya. Memikirkan masa depan memang sah-sah saja. Namun, saat masa depan justru berubah menjadi kecemasan, sudah seharusnya dihentikan. Toh mencemaskannya tak akan berbuah apapun. Cita-cita dan harapanmu pun bisa saja berhenti di tengah jalan, atau mungkin lenyap dilahap rasa cemas.

Alih-alih memikirkan masa depan, justru membuat hidupmu di masa kini terlewati begitu saja. Ada baiknya kamu menimbang-nimbang lagi kenapa tak seharusnya masa depan itu kamu cemaskan dengan berlebihan. Jalani saja harimu dengan doa dan usaha yang seimbang.

Mencemaskan masa depan yang belum datang justru membuatmu lupa menikmati masa sekarang

Secangkir kopi dan sepiring camilan yang harusnya kamu nikmati sambil menyusun ide atau rencana kegiatan, lenyap begitu saja dengan lamunan masa depan. Pikiranmu terus sibuk dengan persoalan karir yang seperti apa ke depannya. Hatimu sendiri pun tengah direpotkan dengan dia yang tak kunjung datang melengkapi. Mau sampai kapan kamu terus begini?

Memikirkan perjalanan karir perlu, tapi bukankah lebih penting lagi kalau kamu fokus menjalani dengan sebaik-baiknya segala usaha. Dan perihal jodoh, tenangkan dan kuatkan hatimu. Alih-alih terus merenungkannya dengan segala kegalauan, buka dirimu pada pergaulan yang lebih luas dan terus pantaskan dirimu sesuai dengan harapan. Ingat saja jodohmu bukan pakaian yang bisa dibolak-balik, atau sendal yang pasangannya bisa tertukar. Jangan lupa juga menikmati setiap waktu yang bergulir.

Daripada terus memikirkan masa depan, fokuslah pada apa yang sekarang harus kamu lakukan

Saat teman-temanmu sudah bergerak melakukan banyak hal, menciptakan karya ini itu dan mengumpulkan segala macam pengalaman. Kamu yang sibuk memikirkan masa depan justru diam di tempat. Kecemasan pada masa depan membuatmu sering takut untuk mengambil langkah baru yang mengharuskan keluar dari zona aman. 

Hei, masa depanmu berproses bukan hanya melewati keenakkan, tapi juga berbagai kesukaran. Dan sebaik-baiknya masa depan adalah yang penuh dengan lika-liku kehidupan. Sudahlah berhenti memikirkan masa depan, lakukan saja apa yang harus kamu lakukan untuk kehidupan yang lebih baik.

Masa depan memang sepenuhnya milikmu. Tapi kehidupanmu, tak sepenuhnya milik egomu.

Masa depanmu yang nyata adalah kesempatan yang kamu gunakan sebaik-baiknya setiap harinya.
Ingat juga orangtua yang harusnya kamu pikirkan sekarang selama mereka masih ada, karena belum tentu di masa depan kamu masih bisa bersama mereka. Jauh sebelum kamu hadir di dunia, masa depanmu sudah berada dalam genggaman doa mereka. Setelah kamu lahir, mereka megusahakan segala daya untuk bantu membangun masa depanmu. Tapi setelah kamu menggap dirimu mumpuni untuk memikirkan masa depanmu sendiri. Kamu lupa dengan waktu mereka yang setiap harinya berkurang.

Asal kamu tahu, ayah dan ibumu tak selamanya menemanimu. Mereka pun tak pernah tahu kapan waktunya melepaskanmu menjalani kehidupan tanpa kehadiran mereka lagi. Karena itu, selagi mereka masih ada di sisimu tak usah lah terlalu sibuk memikirkan masa depanmu itu. Pikirkan bagaimana membuat mereka bahagia dan tenang di hari tuanya. Pikirkan bagaimana kamu harus menyayangi mereka tanpa membuat mereka sedih dan kecewa.

Sudah lah, memikirkan masa depan, tak akan membawamu kemana-mana. Waktumu hanya terbuang percuma. Nikmati hidupmu seperti secangkir kopi dan sepiring camilan yang pagi tadi tersedia dengan sederhana. Keduanya tak tercipta dengan begitu saja, ada sekumpulan usaha di sana. Bukan kah itu seperti masa depan yang kamu harapkan nantinya?

Percaya dengan kekuatan usaha dan doa lebih bijak untuk menunggu masa depanmu yang sudah tertata dengan sendirinya. Tertata sesuai dengan daya dan upaya yang kamu lakukan. Sang Pelukis Semesta tak akan tertidur barang sedetik. Jadi, bisa dipastikan masa depanmu tak akan tertukar oleh apapun.

Semua akan baik-baik saja pada akhirnya jika kamu tetap berusaha, percayalah.

Sabtu, 25 November 2017

Yang Biasa Saja tapi Istimewa..

Hai haiii...
Detik ini, menit ini..
Aku sanggaatt bahagia..

Ini tentang dia..
Dia si Tuan Teka Teki..
Eh aku belum pernah membahasnya disini..
Lain kali akan kubahas tentangnya..
Lain kali saja..

Sudah tau kan, aku wanita yang sangat tidak mudah percaya pada orang..
Siapa pun orang itu..
Tapi kali ini, si Tuan berbuat suatu hal yang tidak pernah dia lakukan..
Sesuatu hal itu cuma hal biasa menurut kalian..
Tapi bagiku luar biasa..
Mungkin menurut kalian aku lebay..
Terserah apa kata kalian..
Yang aku tau, karna hal itu, hatiku bahagia sekali..

Apa sih yang membuat aku sangat bahagia begini?
Ketika dia sibuk dengan temannya, dia menghubungiku..
Tapi bukan itu yang membuatku sebahagia ini..
Dia..
Ketika tidak bisa membalas chat dengan cepat,
Dia menyuruhku menunggu..
Dan tanpa ku minta, dia mengirim foto kegiatannya padaku..
Bukti bahwa dia sedang benar benar melakukan kegiatan itu..
Bukti agar aku tidak menunggu balasannya dan segera tidur..
Bukti bahwa dia ingin aku benar benar percaya padanya..

Hal biasa kan itu?
Tapi menurutku itu luar biasa..
Pria cuek mana yang bahkan bukan siapa siapamu sampai segitunya mengirim foto kegiatannya..
Padahal tanpa foto itu pun aku percaya, dan tanpa foto itupun kalau aku ngantuk bakal tidur juga..
Padahal tanpa foto itu pun aku juga tak menunggunya, aku cuma belum ngantuk saja..

Tapi karna hal itu,
Hatiku seperti disentuhnya..
Seketika ingin memeluknya..
Seketika menginginkan dia di hidupku..
Tapi aku takut..
Takut jika bukan dia yang Tuhan pilihkan untukku..
Takut jika bukan dia Imam yang di tuliskan Tuhan untuk melengkapi hidupku..
Takut jika harapanku sia sia saat Tuhanku berkata 'Tidak, bukan dia yang terbaik untukmu'..
Aku takut..
Sungguh takut..
Karna aku pernah menjatuhkan hati pada sosok lain sebelum ini..
Dan Tuhanku berkata 'Bukan dia'..
Hingga aku terluka sangat dalam..

Tuhan..
Jika memang dia yang Kau sandingkan dengan ku..
Dekatkan dan segera satukan kami..
Karna aku malu dengan umurku jika jatuh cinta main main lagi..
Tapi jika tidak Kau persatukan kami..
Tolong Tuhan, rasa ini juga dihilangkan..
Agar meskipun tidak berjodoh, kita bisa jadi teman baik, tanpa ada rasa dalam dada ku ini lagi..
Karna hanya Kau lah yang Maha Membolak Balikkan hati manusia..

Sabtu, 18 November 2017

Kamu dan Aku. Bukan Kita.

Mencintaimu, adalah cara terindah untuk menghancurkan hati.

Seuntai kata yang sangat tak ingin didengar bagi mereka yang benar-benar mencinta adalah: Patah hati...
Dan tak ada patah hati yang teramat sakit ketika yang mematahkannya adalah seseorang yang benar-benar hanya dicintai...
Maksudku adalah, aku yang hanya mencintaimu...
Dan kau yang tidak mencintaiku...
Lalu aku patah hati...
Sedang kau baik-baik saja.

Yang kutahu, segala sesuatu yang patah dan pecah, selalu menimbulkan suara gaduh...
Tapi kenapa saat hati ini patah hingga pecah, tak ada suara yang kudengar?
Mungkinkah kau yang pandai untuk melukai hati ini?
Atau akunya saja yang terlalu tuli bahwa perasaan ini sudah dihancurkan sedemikian indahnya olehmu?
Semua memang penuh tanya..
Juga tanya perihal mengapa kau begitu sangat kucintai...

Kadang aku berpikir, kau itu seperti lautan luas di luar sana..
Tak peduli seberapa besar aku hujani kau dengan air hujan ini, tetap saja kau tampak biru...
Sedang aku, sehabis menghujani kau, aku akan berubah menjadi putih dan justru akulah yang membiru...
Seolah, aku melakukan sesuatu yang sampai kapanpun tak akan membuahkan hasil positif.

Beberapa orang menganggap aku ini payah dalam mengejarmu..
Hanya mampu bersembunyi dibalik kata-kata yang terkesan penuh bualan..
Tak jarang aku mendengar kata-kata sindiran perihal ketidakgunaanku untuk mengejarmu sejauh ini..
Lalu terdengar tawa dari mereka, sebab mereka menyuruhku untuk menyerah dan mengakhiri ini semua..
Dan aku tertawa kemudian, karena aku tidak ingin menyerah begitu saja..
Lalu kami tertawa, tanpa pernah tahu apa penyebabnya..

Tidak peduli seberapa keras sebuah usaha, di dunia ini, ada yang memang tidak ditakdirkan untuk kita.

Satu waktu aku sadar..
Aku berhenti untuk mengejarmu..
Aku berhenti dari usaha untuk mendapatkan cinta darimu..
Aku tengok ke belakang, dan kulihat sudah segumpal luka yang kutanggung berkatmu..
Aku menyerah?
Bukan!
Nggak ada ceritanya aku menyerah..
Aku tidak menyerah..
Melainkan, aku sudah mencapai garis akhir..

Tidak mudah memang..
Tapi, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa melihatmu berdiri bersama sang pemenang, kan?
Bisa melihatmu berdiri bersama seseorang yang kau cintai, dan juga mencintaimu..
Iya, mengejarmu, sama halnya dengan sebuah perlombaan lari jarak jauh...
Dan aku kalah..

Kuharap kau melihat tepuk tangan ini.. Kuharap kau melihat air mata ini.. Kuharap kau melihat cucuran luka ini.. Kuharap, kau mau untuk melihat satu atau dua detik ke arahku..
Lalu akan kubiarkan kau bersenang-senang dengan orang yang kau cintai..

Sedang aku,
Biarkan langit ini menjadi saksi tentang seseorang yang sudah setengah nyawa mengejarmu, tapi tak pernah dihargai sedikitpun..
Bahkan di saat ini, kuharap langit menumpahkan seisi airnya, hanya untuk menyamarkan kesedihanku ini..

Aku hanya berharap..
Kelak di masa depan, ada seseorang yang mau menceritakan kisahku dalam mengejar seseorang yang kucintai, kepada banyak orang, dan menyebutnya sebagai: Dongeng.

Kau bukanlah orang yang tidak baik. Hanya saja, aku dan kamu tidak tepat untuk menjadi kita.

Surat Terbuka Untuk Masa Laluku


Haii..
Surat ini kutulis kala usiaku sudah bisa dikatakan dewasa..
Di usia yang sudah berkepala dua di depannya..
Bagi sebagian orang, menyebutkan bahwa di usia ini aku sudah bisa dikatakan mandiri secara finansial karena aku bukan lagi anak yang masih meminta bantuan dari orangtua kecuali perhatian dan kasih sayang..

Nah, di surat terbukaku ini, aku peruntukkan untuk masa lalu ku..
Teruntuk hal yang aku panggil masa lalu..
Yang sudah membuat aku menjadi aku yang saat ini..
Sebelumnya aku ingin berucap terima kasih..
Karenamu aku bisa mandiri dan sedikit dewasa seperti saat ini..
Dan aku pun minta maaf tidak bisa membuatmu menjadi kenangan yang baik untuk aku kenang...

Maaf..
Aku banyak menorehkan luka hitam di tubuhmu..
Aku banyak menumpahkan tinta hitam di kertasmu..
Dan aku banyak mencabik paksa di kainmu..
Sehingga bila kini luarku terlihat sempurna tapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan kamu masa laluku..

Bayangmu selalu menghantui perjalanku..
Bukan aku ingin menambah tinta hitam di kertasmu lagi, tapi terkadang aku ingin saja hilang ingatan agar aku tidak ingat betapa kejamnya aku merusakmu..
Sebagaimana pun aku hapus kertasmu hal itu tetap saja membekas dan tampak semakin jelas..

Duhai kamu masa lalu ku...
Kadang aku memohon dan berfikir bisakah kita berdamai untuk masa depan kita? 
Bisakah kamu aku jadikan hanya sebagai cermin agar aku tidak lagi melakukan kesalahan yang sama?
Sanggupkah aku membuatmu bahagia di suatu masa? 
Kala ada suatu kertas pelangi yang mau menambah coraknya dengan kehadiran kertas hitam sepertimu! 
Kamu yang tidak lain adalah masa laluku dan itu adalah aku sendiri!

Duhai masa lalu bisa kah kita berjalan seiring saling berpegang tanpa merubah hal di masa depan menjadi sama buruk dan kelamnya seperti kita? 
Duhai masa laluku..
Semoga suatu waktu aku bisa berdamai dengan mu..

Kita Sedang Apa Sih?


Perhatian??
Ya, dia selalu perhatian..
Makan bareng sampai kenalan di keluarga masing masing sudah dilakukan..
Tapi kita nggak pacaran...
Kenapa?
Karena dia lagi-lagi seperti nggak ada niat buat mengungkapkan cintanya..
Teman dan keluarga bahkan sudah mengira kita pacaran...
Padahal kenyataannya kita hanya teman biasa..

Sakit?
Banget..
Tapi sakit ini tambah sakit lagi kalau nggak tahu alasannya dia nggak mau ungkapkan cinta...
Mau bertanya takut sakit hati, diam saja juga sama sakitnya..
Balas chat rajiiin banget..
Bahkan sampai kita nggak pernah kehilangan topik menarik...
Tapi ya demikian, nggak ada sama sekali itikad serius untuk mengungkapkan cinta..
Entah dia mati rasa atau memang nggak ada niat buat ungkapkan cinta...
Terserah saja semoga yang dijalani ini ada baiknya...
Bagaimana dengan acara nongkrong dan jalan berdua?
Itu sudah biasa dilakukan..
Acara makan bareng, nongkrong asyik berduaan sudah pernah dijalani bahkan terbilang intens...

Capek?
Iya capek banget nunggu yang gak jelas gini..
Setiap hari nunggu dia nyatakan cinta..
Meskipun nggak ada sama sekali tanda-tanda dia mau jalani hubungan yang nggak jelas ini lebih serius lagi...


Entah kenapa, status pacaran jadi sangat penting bagiku..
Rasanya pengen dimiliki biar tenang dan nyaman..
Sakitnya menusuk banget tiap dikenalin selalu atas nama “teman”...
Teman macam apa yang sering ucapin “met bobo”!?
Kalau memang teman harusnya dia jaga sikap biar nggak bikin baper kan..
Sering banget dia bikin jantung berdebar keras kala dia diam seperti ada hal yang perlu diomongin..
Setelah ditungguin lamaaa dianya diam saja malah nggak ada ucapan sama sekali...
Perilaku dan sikapnya sudah dibilang mirip orang pacaran, bedanya ini tipikal yang mati rasa, yang pura-pura nggak tahu perasaan cewek...
Menyebalkan banget emang!
Tapi terlanjur sayang, gimana dong..

 
Hubungan ini sepertinya nggak akan berhasil kalau hanya dengan doa.. Memang harus berani menanyakan hal ini ke dianya..
Kalau hanya diam saja pasti nggak akan menyelesaikan keresahan, apalagi dia sepertinya mudah banget dekat dengan cewek..

Semoga semua yang menjadi harapan bisa bertemu dengan kenyataan...
Lebih baik berteman daripada digantung terus-terusan, batin terkoyak cinta pun enggan melekat...

Selasa, 14 November 2017

Kamu Kamu Lagi dan Lagi


Hai..
Kali ini tentang kamu lagi..
Kamu yang dengan mudah nya memasuki hatiku..
Mungkin ini bukan semua tentang kamu, tapi lebih tepatnya tentang kesalahanku..
Kamu tau kan, seorang wanita selalu butuh teman cerita?
Ya aku merasa aku mendapatkannya..
Tapi dari situlah kesalahanku (lagi)..
Kenapa (lagi)?
Karna dulu juga pernah seperti ini..
Walau tidak se ekstrim dulu, tapi cukup menyesalkan..

Aku menceritakan seperempat kisahku padanya, berharap dia punya solusi untuk kita..
Ya kita, aku dan kamu..
Aku menceritakannya bagaimana hari hariku denganmu..
Bagaimana caramu menemaniku..
Bagaimana tangisku pecah saat itu..
Bagaimana aku disalahkan karnamu.. 

Itulah kesalahanku..
Dia kini dekat denganmu..
Entah apa yang dikatakannya padamu, hingga aku merasa kamu menjauhiku..
Kamu kini berbeda..
Bukan kamu yang aku kenal dulu..
Bukan kamu yang menenangkanku..
Bukan kamu yang mampu membuat aku menceritakan semua kisah kisahku..
Bukan kamu yang jauh jauh kerumahku hanya untuk mengajakku keliling kota bersepeda..
Bukan kamu yang dengan sapaan hai saja bisa membuatku tersenyum.. 

Ya, kamu sekarang bukanlah kamu yang ku mau..
Kamu berubah..
Kamu berbeda, sangat berbeda..
Kamu kembali lagi seperti dulu..
Kamu bukan lagi kamu ku.. 

Aku rindu..
Aku rindu kamu ku..
Sangat rindu..
Sangat sangat rindu.. 

Sekarang terserah bagaimana jalannya..
Kelak jika kita memang bisa bersatu atas restu Nya, aku akan menceritakan semua yang aku rasakan ini..
Betapa sangat menyakitkannya saat ini..
Tapi jika ternyata kamu bukan takdirku, aku akan menyimpan kisah ini di sini saja..
Walau aku sangat berharap, namamulah yang ditulis Tuhan sebagai takdirku..
Dan bagaimanapun kisah nya, semoga inilah yang terbaik..
Karna aku yakin, apapun kisah hidupku yang ditulis Tuhan, selalu yang berakhir baik dan indah..
Karna Tuhanku Maha Tau skenario terbaik untuk hambaNya..

Minggu, 12 November 2017

Surat Terbuka untuk Kamu


Assalamualaikum..
Hai kamu.. 
Apa kabar?
Semoga kamu selalu baik baik saja.. 

Kamu tau, sebenarnya aku bukan tipe gadis yang semudah itu menerima seseorang di hatiku..
Aku sangat tidak mudah jatuh hati pada siapapun..
Tapi kali ini berbeda..
Kamu,
Entah bagaimana caramu, dengan waktu singkat kamu dengan sangat mudah mendapatkan hatiku..
Kamu mampu membuatku bahagia saat namamu muncul di layar handphone ku..
Membuatku gak sabar untuk dapat menemuimu..
Membuatku nyaman saat mendengar suaramu..
Membuatku gak pernah bosan mendengar ceritamu..

Dan kamu tau, itulah awal dari kesalahanku..
Kini, aku benci pada diriku sendiri..
Kenapa?
Karena bahagiaku bergantung pada pesan singkat darimu..
Aku benci pada diriku, karena kenyamananku bergantung pada hadirmu..
Aku benci akan rasa takut jika kamu meninggalkanku..
Aku benci akan rasa khawatir jika kamu tidak memilihku..
Aku benci kalau kamu akan mempermainkanku..
Aku benci akan candu untuk terus bertemu kamu..

Ya,
Aku benci,
Sangat benci.. 
Benci menerima kenyataan bahwa aku kini jatuh cinta padamu..