Selasa, 22 September 2015

Keindahan Akhlak Kekasih Allah

 
Firman Allah SWT dalam Al Quran

68.4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ayat di atas memuat pujian Allah SWT kepada Rasul pilihan-Nya, Muhammad SAW. Bahwa memang tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlaknya daripada beliau. Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama. Hal ini pun diakui oleh para sahabat yang menyertai hari-hari beliau sebagaimana dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah SAW manusia yang paling bagus akhlaknya.”

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah SAW ia menjawab:

“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an.”

Bahwa gambaran apa saja yg diperintahkan Al-Qur`an pasti beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang Al-Qur`an beliau tinggalkan. Selain memang Allah SWT telah menciptakan beliau dengan sebaik-baik tabiat dan akhlak.

Ahlak Rasulullah SAW Bersama Istrinya

Sebagaimana persaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika di rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah?” 
Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: 

“Beliau SAW adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Anas bin Malik berkata,  

“Suatu saat Nabi SAW di tempat salah seorang istrinya maka salah seorang istri beliau (yang lain) mengirim sepiring makanan. Maka istri beliau yang beliau sedang dirumahnya pun memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah (sehingga makanan berhamburan). Lalu Nabi SAW mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau berkata, “Ibu kalian cemburu….” (HR Al-Bukhari V/2003 no 4927)

Rasulullah SAW menolak kejahatan dengan kebaikan.
Tatkala seorang pandir Quraisy mencegat rasulullah di tengah jalan, lalu menyiramkan tanah di atas kepala beliau. Muhammad SAW  diam menahan pedih. kemudian pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, putrinya, kemudian datang mencucikan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis sang anak. Lebih-lebih anak perempuan.Setitik air mata kepedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar jantung. Beliau pun tak kuasa menahan getir dan hampir pula menyuluti emosinya untuk membalas. Tetapi Rasul Muhammad adalah seorang yang sabar dan pemaaf. lalu, apakah yang beliau lakukan dengan tangis putrinya yang baru saja kehilangan sang ibu tercinta itu?

Rasulullah Muhammad SAW hanya bisa menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku, Tuhan akan melindungi ayahmu.”

Inilah akhlak cantik yang telah diperlihatkan oleh Rasul kepada kita semua.

“ Dan, kalau kamu hendak melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi, kalau kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, karena berpegang kepada pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula engkau bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan.” (QS. Al-Nahl: 126-127).

Rasulullah SAW benci kepada orang yang berdiri menghormatinya
Dari Anas bin Malik t berkata :

“Tak seorangpun yang mereka cintai lebih dari cinta kepada Rasulullah SAW tapi jika mereka melihat Rasululloh tidak berdiri menghormati beliau karena mereka tahu bahwa beliau benci kepada hal yang yang serupa.” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta, Sayyidina Muhammad SAW . 

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ketika beliau mengimami shalat berjemaah, para sahabat mendapati seolah-olah setiap kali beliau berpindah rukun terasa susah sekali dan terdengar bunyi yang aneh. Selepas shalat, salah seorang sahabat, Sayyidina Umar bin Khatthab bertanya:
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat. Sedang sakitkah engkau ya Rasulullah?".  “Tidak ya Umar. Alhamdulillah aku sehat dan segar.” Jawab Rasulullah. “Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh baginda saling bergesekkan? Kami yakin baginda sedang sakit”. Desak Sayyidina Umar penuh cemas.
Akhirnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabatpun terkejut ketika mendapati perut Rasulullah SAW yang kempis tengah di lilit oleh sehelai kain yang berisi batu kerikil sebagai penahan rasa lapar.Ternyata, batu-batu kerikil itulah yang menimbulkan bunyi aneh setiap kali tubuh Rasulullah SAW bergerak.
Para sahabatpun berkata, “Ya Rasulullah, adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya untuk tuan?”.
Baginda Rasulullah pun menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti dihadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti."

Akhlak Rasulullah SAW di tengah para sahabat
Kata Hassan, Maka aku tanyakan tentang keadaannya apabila Baginda sedang berada di tengah-tengah para sahabatnya.
Jawabnya, “Rasulullah SAW sentiasa periang (gembira), budi pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar maupun bengis terhadap seseorang, tidak suka berteriak-teriak, tidak suka perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka bergurau (olok-olokan), selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang yang meminta.

Akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan
Sejak kecil Nabi Muhammad SAW hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Rumah beliau di samping sebelah timur Masjid Nabawi, sangat kecil. Atapnya rendah terbuat dari rumbia kurma yang bisa disentuh tangan karena pendeknya. Di dalam rumah beliau nyaris tak ada perabot. Yang tampak hanya tempat minum beliau yang terbuat dari kayu keras yang dipatri dengan besi dan sebuah baju besi yang biasa dipakai beliau ketika berperang. Baju besi inipun konon menjelang Nabi SAW wafat digadaikan kepada seorang Yahudi. Tempat tidur beliau selembar tikar dari anyaman pelepah kurma. 
Pernah seorang sahabat menawarkan tempat tidur yang lebih layak bagi seorang Rasul Allah. Namun, beliau menjawab, ”Apalah artinya dunia bagiku … bukankah engkau rela mereka memperoleh dunia sedangkan kita memperoleh akhirat?” Begitulah gambaran kesederhanaan beliau yang tidak butuh dunia dan tidak silau dengan gemerlapnya harta.
 
Rasulullah SAW juga sangat rendah hati. Walau seorang pemimpin agung, beliau tidak mau disanjung dan dihormati serta dielu-elukan. Anas bin Malik RA berkata, ”Para sahabat yang mau berdiri menyambut kehadiran Rasulullah, tidak jadi berdiri, ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu.” (HR Ahmad).

Di antara akhlak Rasulullah terhadap Allah SWT, ‘Aisyah menceritakan: 
Suatu ketika ditengah malam ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah ditempat tidurnya, setelah diraba-raba, tidak ditemukan, ternyata dijumpainya beliau sedang shalat. Usai shalat, ‘Aisyah bertanya: Ya Rasulullah Anda adalah orang yang sudah dijamin oleh Allah dengan surgaNya, Anda juga ma’shum (terjaga dari dosa), diampuni oleh Allah, namun kenapa anda terus melakukan shalat sampai nyaris, kaki anda bengkak? Beliau menjawab: Afala uhibba, an akuuna ‘abadan syakuuraa (Apakah aku tidak senang, kalau aku berpredikat sebagai hamba Allah yang pandai bersyukur?).
Jadi, cara bersyukur Rasulullah adalah dengan mengabdi dan beribadah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya senantiasa bertambah, sementara jaminan surga juga tidak ada?
Akhlak Rasulullah SAW kepada budak
Dan Rasulullah SAW tidak pernah mau mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa:
Seorang wanita ( Barirah RA) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia mengundang Rasul SAW karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin mengundang Rasul SAW tapi malu tidak punya apa-apa. Maka ketika datang makanan enak sebelum ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada Rasul SAW, aku ingin Rasul datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur hidup dia belum mencicipi makanan itu. Barirah yang susah ini pun datang mengundang Rasul SAW ke rumahnya, maka Rasul SAW datang bersama para sahabat untuk menyenangkan Barirah RA seorang budak wanita yang miskin, Rasul saw tidak ingin mengecewakan orang lain maka datang Sang Nabi bersama para sahabat, para sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah membelinya sendiri, maka berkata para sahabat :
Yaa Rasulallah barangkali ini adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah , kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh memakannya”
Berubahlah hati Barirah dalam kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasul SAW tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah RA dan bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang Rasul SAW untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah SAW. Namun bagaimana manusia yang paling indah budi pekertinya dan bijaksana, maka Rasul SAW berkata: “Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh memakannya “, dan Rasul SAW pun memakannya.

Akhlak Rasulullah dalam suatu peperangan
Seorang musuh ( Da’thur ) dapat menghampiri Rasulullah yang sedang beristirahat. Dengan pedang terhunus musuh berkata, “Siapa lagi yang dapat menyelamatkan engkau?” Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ALLAH!” Tiba-tiba pedang terlepas dari tangannya, sebagai satu mukjizat ALLAH pada Rasulullah. Maka Rasulullah pun mengambil pedang itu dan mengangkatnya ke hadapan musuh dan bertanya, “Siapa pula yang dapat menyelamatkan kamu sekarang?”
“Tiada siapa-siapa lagi” jawabnya. Lantas nabi pun memaafkannya. Sehingga karena itu orang tersebut berkata pada kawan-kawannya,  “Aku baru kembali dari berjumpa sebaik-baik manusia.”

Akhlak Rasulullah SAW kepada Pengemis Buta
Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, “Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu.” Walau begitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga beliau wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, “Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada sunah yang belum ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.”

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” Pengemis membantah, “Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.”
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Akhlak rasulullah terhadap anak yatim
Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.

“Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis. Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan.

“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata.
Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin? Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. 

Akhlak rasulullah terhadap fakir
Pada satu hari, hadir di dalam satu majlis makan seorang fakir yang hitam legam kulitnya. Berkudis badannya. Para sahabat nampaknya kurang senang dan bimbang kalau-kalau si fakir ini duduk bersebelahan dengan mereka. Tetapi apa reaksi Rasulullah SAW? Baginda bangun dan pegang tangan si fakir, dipimpin dan dibawa masuk ke dalam majlis dan dibawanya duduk betul-betul bersebelahan dengan baginda. Maka makanlah baginda dengan si fakir itu bersama-sama. 
Begitulah rendah diri dan tawadhuknya baginda terhadap manusia. Walhal nama baginda diletakkan di sisi nama Allah, selaku manusia yang paling dikasihi oleh Allah.

Akhlak rasulullah terhadap kaum yang menzholimi beliau
Rasulullah s.a.w pernah dicaci maki, dihalau dan dilontar dengan batu hingga mengalir darah meleleh hingga ke kakinya oleh kaum Thaqif di Taif. Mereka itu marah dengan Rasulullah karena baginda mengajak mereka kepada agama Islam. Maka berlarilah Rasulullah s.a.w berlindung di sebalik bukit menyembunyikan diri. Kemudian turunlah malaikat berkata kepada baginda : “Wahai kekasih Allah, katakan apa saja untuk kami lakukan terhadap kaum ini?. Maka Jawab baginda dengan jawaban yang tidak pernah diduga oleh siapapun. Kata-kata yang lahir daripada jiwa yang benar-benar mulia lagi suci murni. Inilah akhlak baginda yang mesti menjadi panutan kita."
Baginda memaafkan kesalahan orang yang menzalimi baginda dengan katanya : “Wahai Tuhan! Berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.” 
Begitulah baiknya Rasulullah SAW. Orang yang menyakitinya pun di doakannya. 

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar