Firman Allah SWT dalam Al Quran
68.4. Dan sesungguhnya kamu
benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Ayat di atas memuat pujian Allah SWT
kepada Rasul pilihan-Nya, Muhammad SAW. Bahwa memang tidak ada manusia yang
lebih sempurna akhlaknya daripada beliau. Tidak ada satu pun kebagusan dan
kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan
paling utama. Hal ini pun diakui oleh para sahabat yang
menyertai hari-hari beliau sebagaimana dinyatakan Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu:
“Adalah Rasulullah SAW
manusia yang paling bagus akhlaknya.”
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu
‘anha ketika ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah
SAW ia menjawab:
“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an.”
Bahwa gambaran apa saja yg
diperintahkan Al-Qur`an pasti beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang
Al-Qur`an beliau tinggalkan. Selain memang Allah SWT telah menciptakan beliau
dengan sebaik-baik tabiat dan akhlak.
Ahlak Rasulullah SAW Bersama Istrinya
Sebagaimana persaksian Aisyah
radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang apa yang dilakukan
Rasulullah SAW ketika di rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah
ditanya: “Apakah
yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah?”
Ia radhiyallahu ‘anha menjawab:
“Beliau SAW adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri,
memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan
Tirmidzi)
Dari Anas bin Malik
berkata,
“Suatu
saat Nabi SAW di tempat salah seorang istrinya maka salah seorang istri beliau
(yang lain) mengirim sepiring makanan. Maka istri beliau yang beliau sedang
dirumahnya pun memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah
(sehingga makanan berhamburan). Lalu Nabi SAW mengumpulkan pecahan piring
tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau berkata, “Ibu
kalian cemburu….” (HR Al-Bukhari V/2003 no 4927)
Rasulullah SAW menolak kejahatan dengan kebaikan.
Tatkala seorang pandir Quraisy
mencegat rasulullah di tengah jalan, lalu menyiramkan tanah di atas kepala
beliau. Muhammad SAW diam menahan pedih. kemudian pulang ke rumah dengan
tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, putrinya, kemudian datang
mencucikan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tak
ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis
sang anak. Lebih-lebih anak perempuan.Setitik air mata kepedihan yang
mengalir dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar
jantung. Beliau pun tak kuasa menahan getir dan hampir pula menyuluti emosinya
untuk membalas. Tetapi Rasul Muhammad adalah seorang yang sabar dan pemaaf.
lalu, apakah yang beliau lakukan dengan tangis putrinya yang baru saja
kehilangan sang ibu tercinta itu?
Rasulullah Muhammad SAW hanya bisa
menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk
menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku, Tuhan akan melindungi
ayahmu.”
Inilah akhlak cantik yang telah
diperlihatkan oleh Rasul kepada kita semua.
“ Dan, kalau kamu hendak
melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi,
kalau kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu
tabahkan hatimu, karena berpegang kepada pertolongan Allah. Janganlah kamu
bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula engkau bersesak dada
terhadap apa yang mereka rencanakan.” (QS. Al-Nahl:
126-127).
Rasulullah SAW benci kepada orang yang berdiri menghormatinya
Dari Anas bin Malik t berkata :
“Tak seorangpun yang mereka
cintai lebih dari cinta kepada Rasulullah SAW tapi jika mereka melihat
Rasululloh tidak berdiri menghormati beliau karena mereka tahu bahwa beliau
benci kepada hal yang yang serupa.” (HR. Ahmad dan
Turmudzi).
Sejarah tak akan mampu mengingkari
betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta, Sayyidina Muhammad
SAW .
Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ketika beliau mengimami shalat
berjemaah, para sahabat mendapati seolah-olah setiap kali beliau berpindah
rukun terasa susah sekali dan terdengar bunyi yang aneh. Selepas shalat, salah
seorang sahabat, Sayyidina Umar bin Khatthab bertanya:
“Ya Rasulullah, kami melihat
seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat. Sedang sakitkah
engkau ya Rasulullah?". “Tidak ya Umar. Alhamdulillah aku sehat dan segar.” Jawab
Rasulullah. “Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Baginda menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh baginda saling bergesekkan? Kami
yakin baginda sedang sakit”. Desak Sayyidina Umar penuh cemas.
Akhirnya, Rasulullah pun mengangkat
jubahnya. Para
sahabatpun terkejut ketika mendapati perut Rasulullah SAW yang kempis tengah di
lilit oleh sehelai kain yang berisi batu kerikil sebagai penahan rasa lapar.Ternyata, batu-batu kerikil itulah yang
menimbulkan bunyi aneh setiap kali tubuh Rasulullah SAW bergerak.
Para sahabatpun berkata, “Ya Rasulullah, adakah
bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan
mendapatkannya untuk tuan?”.
Baginda Rasulullah pun menjawab dengan
lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti dihadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti."
Akhlak Rasulullah SAW di tengah para sahabat
Kata Hassan, “Maka aku tanyakan tentang
keadaannya apabila Baginda sedang berada di tengah-tengah para
sahabatnya.
Jawabnya, “Rasulullah SAW sentiasa
periang (gembira), budi pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar
maupun bengis terhadap seseorang, tidak suka berteriak-teriak, tidak suka
perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka bergurau (olok-olokan),
selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak permintaan
seseorang yang meminta.
Akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan
Sejak kecil Nabi Muhammad SAW hidup
dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Rumah beliau di samping sebelah timur
Masjid Nabawi, sangat kecil. Atapnya rendah terbuat dari rumbia kurma yang bisa
disentuh tangan karena pendeknya. Di dalam rumah beliau nyaris tak ada
perabot. Yang tampak hanya tempat minum beliau yang terbuat dari kayu keras
yang dipatri dengan besi dan sebuah baju besi yang biasa dipakai beliau ketika
berperang. Baju besi inipun konon menjelang Nabi SAW wafat digadaikan kepada
seorang Yahudi. Tempat tidur beliau selembar tikar dari anyaman pelepah kurma.
Pernah seorang sahabat menawarkan
tempat tidur yang lebih layak bagi seorang Rasul Allah. Namun, beliau menjawab,
”Apalah artinya dunia bagiku … bukankah engkau rela mereka memperoleh dunia
sedangkan kita memperoleh akhirat?” Begitulah gambaran kesederhanaan beliau
yang tidak butuh dunia dan tidak silau dengan gemerlapnya harta.
Rasulullah SAW juga sangat rendah hati.
Walau seorang pemimpin agung, beliau tidak mau disanjung dan dihormati serta
dielu-elukan. Anas bin Malik RA berkata, ”Para sahabat yang mau berdiri menyambut kehadiran
Rasulullah, tidak jadi berdiri, ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau
dihormati seperti itu.” (HR Ahmad).
Di antara akhlak Rasulullah terhadap
Allah SWT, ‘Aisyah menceritakan:
Suatu ketika ditengah malam ‘Aisyah merasa
kehilangan Rasulullah ditempat tidurnya, setelah diraba-raba, tidak ditemukan,
ternyata dijumpainya beliau sedang shalat. Usai shalat, ‘Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah Anda adalah orang yang sudah
dijamin oleh Allah dengan surgaNya, Anda juga ma’shum (terjaga dari dosa),
diampuni oleh Allah, namun kenapa anda terus melakukan shalat sampai nyaris,
kaki anda bengkak? Beliau menjawab: Afala uhibba, an akuuna ‘abadan
syakuuraa (Apakah aku tidak senang, kalau aku berpredikat sebagai hamba Allah
yang pandai bersyukur?).
Jadi, cara bersyukur Rasulullah adalah
dengan mengabdi dan beribadah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Lalu
bagaimana dengan kita, yang dosanya senantiasa bertambah, sementara jaminan
surga juga tidak ada?
Akhlak Rasulullah SAW kepada budak
Dan Rasulullah SAW tidak pernah mau
mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa:
Seorang wanita ( Barirah RA) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia
mengundang Rasul SAW karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan
yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin
mengundang Rasul SAW tapi malu tidak punya apa-apa. Maka ketika datang makanan enak sebelum
ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada
Rasul SAW, aku ingin Rasul datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur
hidup dia belum mencicipi makanan itu. Barirah yang susah ini pun datang
mengundang Rasul SAW ke rumahnya, maka Rasul SAW datang bersama para sahabat
untuk menyenangkan Barirah RA seorang budak wanita yang miskin, Rasul saw tidak
ingin mengecewakan orang lain maka datang Sang Nabi bersama para sahabat, para
sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah
membelinya sendiri, maka berkata para sahabat :
“Yaa Rasulallah barangkali ini
adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah ,
kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh
memakannya”
Berubahlah hati Barirah dalam
kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasul SAW
tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu
karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah RA dan
bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang
Rasul SAW untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah SAW. Namun bagaimana manusia yang paling
indah budi pekertinya dan bijaksana, maka Rasul SAW berkata: “Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah
dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh
memakannya “, dan Rasul SAW pun memakannya.
Akhlak Rasulullah dalam suatu peperangan
Seorang musuh ( Da’thur ) dapat
menghampiri Rasulullah yang sedang beristirahat. Dengan pedang terhunus musuh
berkata, “Siapa lagi yang dapat menyelamatkan engkau?” Dengan tenang Rasulullah menjawab,
“ALLAH!” Tiba-tiba pedang terlepas dari tangannya,
sebagai satu mukjizat ALLAH pada Rasulullah. Maka Rasulullah pun mengambil
pedang itu dan mengangkatnya ke hadapan musuh dan bertanya, “Siapa pula yang dapat menyelamatkan
kamu sekarang?”
“Tiada siapa-siapa lagi” jawabnya. Lantas nabi pun memaafkannya. Sehingga karena itu orang tersebut berkata pada kawan-kawannya, “Aku baru kembali dari berjumpa sebaik-baik manusia.”
“Tiada siapa-siapa lagi” jawabnya. Lantas nabi pun memaafkannya. Sehingga karena itu orang tersebut berkata pada kawan-kawannya, “Aku baru kembali dari berjumpa sebaik-baik manusia.”
Akhlak Rasulullah SAW kepada Pengemis Buta
Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu
mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu
berkata, “Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai
Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia
akan memengaruhimu.” Walau begitu busuk hati dan perbuatan
pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa
berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga
beliau wafat.
Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah
Aisyah, beliau bertanya, “Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku
kerjakan?” Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada
sunah yang belum ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung
pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di
sana.”
Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke
sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang
pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu?”
Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” Pengemis membantah, “Engkau bukan
orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak susah
memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan
makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.”
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
Akhlak rasulullah terhadap anak yatim
Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai
berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah
perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu
persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat
takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa
membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang
kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
“Gerangan apakah yang membuat engkau
menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang
gadis. Tak menoleh gadis kecil itu ke arah
suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari
sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia
menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan.
“Ayahku mati syahid dalam sebuah
peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di
hadapannya tentang Ayahnya.
Seketika, lelaki itu mendekap gadis
kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu,
Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?”
Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain
Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk
diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata.
Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang
Ummul Mukminin? Begitulah lelaki agung itu membuat
seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali,
itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir
oleh Nabi anak yatim.
Akhlak rasulullah terhadap fakir
Pada satu hari, hadir di dalam satu
majlis makan seorang fakir yang hitam legam kulitnya. Berkudis badannya. Para
sahabat nampaknya kurang senang dan bimbang kalau-kalau si fakir ini duduk
bersebelahan dengan mereka. Tetapi apa reaksi Rasulullah SAW?
Baginda bangun dan pegang tangan si fakir, dipimpin dan dibawa masuk ke dalam
majlis dan dibawanya duduk betul-betul bersebelahan dengan baginda. Maka
makanlah baginda dengan si fakir itu bersama-sama.
Begitulah rendah diri dan
tawadhuknya baginda terhadap manusia. Walhal nama baginda diletakkan di sisi
nama Allah, selaku manusia yang paling dikasihi oleh Allah.
Akhlak rasulullah terhadap kaum yang menzholimi beliau
Rasulullah s.a.w pernah dicaci maki,
dihalau dan dilontar dengan batu hingga mengalir darah meleleh hingga ke
kakinya oleh kaum Thaqif di Taif. Mereka itu marah dengan Rasulullah karena
baginda mengajak mereka kepada agama Islam. Maka berlarilah Rasulullah s.a.w
berlindung di sebalik bukit menyembunyikan diri. Kemudian turunlah malaikat
berkata kepada baginda : “Wahai kekasih Allah, katakan apa saja untuk kami
lakukan terhadap kaum ini?. Maka Jawab baginda dengan jawaban yang tidak pernah
diduga oleh siapapun. Kata-kata yang lahir daripada jiwa yang benar-benar mulia
lagi suci murni. Inilah akhlak baginda yang mesti menjadi panutan kita."
Baginda memaafkan kesalahan orang yang
menzalimi baginda dengan katanya : “Wahai Tuhan! Berilah petunjuk kepada kaumku
karena mereka tidak mengetahui.”
Begitulah baiknya Rasulullah SAW. Orang yang
menyakitinya pun di doakannya.
(Dirangkum dari berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar